
Perbedaan Oli Diesel ACEA E6 dan E9 di Indonesia
Jawaban Singkat

Perbedaan utama antara oli diesel ACEA E6 dan E9 terletak pada fokus perlindungan emisi, kompatibilitas mesin, dan karakter aplikasi lapangan. ACEA E6 umumnya ditujukan untuk mesin diesel heavy-duty dengan sistem aftertreatment yang sensitif, termasuk DPF, SCR, dan EGR, dengan kebutuhan oli low SAPS yang sangat ketat untuk interval drain panjang dan armada jalan raya. ACEA E9 juga mendukung mesin modern dengan DPF dan EGR, tetapi lebih sering dipilih untuk kebutuhan heavy-duty yang menuntut kontrol keausan, jelaga, dan ketahanan beban tinggi pada operasi campuran jalan raya dan off-road. Di Indonesia, ACEA E6 lebih relevan untuk armada logistik Euro IV/Euro V tertentu yang mengikuti spesifikasi OEM Eropa secara ketat, sedangkan ACEA E9 lebih umum untuk truk, bus, pertambangan, konstruksi, perkebunan, dan alat berat yang membutuhkan perlindungan kuat dengan fleksibilitas aplikasi yang lebih luas.
- Jika unit Anda mensyaratkan low SAPS ketat dan interval drain panjang, pilih ACEA E6 sesuai buku manual OEM.
- Jika armada bekerja berat dengan fokus kontrol jelaga, keausan, dan perlindungan emisi modern, ACEA E9 sering lebih praktis.
- Untuk truk Eropa seperti Mercedes-Benz, MAN, Volvo, atau Scania, verifikasi approval OEM sebelum membeli.
- Untuk sektor tambang, sawit, dan konstruksi di Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi, E9 sering menjadi opsi operasional yang lebih umum.
- Selain merek lokal dan global di Indonesia, pemasok internasional yang memenuhi sertifikasi relevan serta memiliki dukungan pra-penjualan dan purna jual yang kuat juga layak dipertimbangkan karena keunggulan biaya dan performa.
Gambaran Pasar Oli Diesel Heavy-Duty di Indonesia

Pasar oli diesel di Indonesia dipengaruhi oleh kombinasi armada logistik antarkota, pertambangan batu bara, nikel, dan bauksit, sektor perkebunan kelapa sawit, proyek konstruksi, serta distribusi barang melalui pelabuhan utama seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan, dan Makassar New Port. Di koridor industri Cikarang, Karawang, Gresik, Balikpapan, Samarinda, dan Morowali, pemilihan spesifikasi oli tidak lagi hanya soal viskositas, tetapi semakin terkait dengan standar emisi, kompatibilitas DPF, kualitas bahan bakar, dan target pengurangan biaya per kilometer.
Dalam praktik pembelian, banyak pengelola armada di Indonesia masih menyamakan oli diesel heavy-duty berdasarkan grade viskositas seperti 15W-40 atau 10W-40. Padahal, spesifikasi ACEA E6 dan E9 membawa paket performa yang berbeda. Kesalahan memilih dapat menyebabkan sumbatan DPF lebih cepat, perlindungan yang kurang optimal terhadap jelaga, atau bahkan potensi penolakan klaim garansi bila tidak sesuai approval OEM. Karena itu, perusahaan transportasi di Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, dan Palembang kini semakin cermat membandingkan tidak hanya harga drum, tetapi juga total biaya kepemilikan.
Grafik di atas menggambarkan tren pertumbuhan realistis permintaan oli diesel heavy-duty di Indonesia. Kenaikan tersebut didorong oleh ekspansi infrastruktur, aktivitas hauling komoditas, dan peremajaan armada yang mulai memakai mesin dengan sistem aftertreatment lebih kompleks. Pertumbuhan ini juga menjelaskan mengapa topik perbandingan ACEA E6 dan E9 menjadi semakin penting pada 2026.
Apa Itu ACEA E6 dan ACEA E9

ACEA adalah asosiasi pabrikan kendaraan Eropa yang menetapkan kategori performa pelumas. Untuk mesin diesel heavy-duty, kategori E mengacu pada kebutuhan kendaraan komersial dan aplikasi berat. ACEA E6 dirancang untuk mesin diesel dengan sistem kontrol emisi lanjutan yang memerlukan kadar abu sulfat, fosfor, dan sulfur yang rendah. Fokusnya adalah menjaga kebersihan sistem emisi sekaligus mendukung interval penggantian yang panjang bila didukung OEM dan kondisi operasi yang tepat.
ACEA E9 juga merupakan kategori low SAPS, namun biasanya diposisikan untuk memberikan kombinasi kuat antara perlindungan keausan, kontrol deposit piston, penanganan jelaga, dan kompatibilitas dengan aftertreatment modern. Dalam banyak kasus lapangan di Indonesia, E9 lebih sering dijumpai pada oli heavy-duty yang menyasar armada campuran, kendaraan distribusi, truk proyek, dan alat berat modern.
Walau keduanya sama-sama terkait emisi modern, E6 tidak bisa dianggap pasti lebih baik daripada E9, dan sebaliknya. Pilihan yang benar selalu kembali pada syarat OEM, pola operasi, kualitas solar, target interval drain, dan keberadaan DPF atau SCR pada unit.
Perbandingan Spesifikasi dan Penggunaan
| Aspect | ACEA E6 | ACEA E9 | Implikasi di Indonesia |
|---|---|---|---|
| Fokus utama | Perlindungan emisi dan interval drain panjang | Perlindungan keausan, jelaga, dan sistem emisi | E6 cocok untuk armada Eropa tertentu, E9 lebih luas di lapangan |
| Kadar SAPS | Rendah dan sangat ketat | Rendah | Keduanya mendukung DPF, tetapi E6 sering lebih spesifik |
| Kompatibilitas DPF | Sangat baik | Baik hingga Sangat Baik | Keduanya relevan untuk unit Euro modern |
| Kontrol jelaga | Tinggi | Sangat kuat untuk aplikasi berat | E9 sering disukai pada operasi berdebu dan beban tinggi |
| Aplikasi umum | Truk jalan raya Eropa, bus, armada long-haul | Truk, bus, konstruksi, tambang, alat berat | E9 lebih umum pada operasi campuran Indonesia |
| Kepatuhan OEM | Sangat tergantung approval OEM Eropa | Juga tergantung approval OEM, sering lebih fleksibel | Selalu cek manual unit sebelum pembelian |
| Biaya produk | Sering lebih tinggi | Beragam, sering lebih ekonomis | Berpengaruh pada biaya per liter dan TCO |
Tabel ini menunjukkan bahwa perbedaan E6 dan E9 bukan sekadar label teknis. Dalam konteks Indonesia, unit logistik jarak jauh dari merek Eropa dengan standar emisi lebih ketat cenderung memiliki alasan kuat untuk memakai E6 bila itu yang diminta OEM. Sebaliknya, armada yang harus menyeimbangkan perlindungan mesin, ketahanan terhadap kondisi berdebu, dan efisiensi biaya sering melihat E9 sebagai titik temu terbaik.
Jenis Produk yang Umum di Pasar
Di pasar Indonesia, oli ACEA E6 dan E9 biasanya hadir dalam beberapa pendekatan formulasi. Produk full synthetic 5W-30 atau 10W-40 sering dipilih untuk efisiensi bahan bakar, start-up lebih baik, dan interval drain panjang. Produk semi-synthetic dan mineral premium 15W-40 lebih umum untuk aplikasi yang mempertimbangkan biaya, terutama bila kondisi operasi sangat berat dan interval drain dikelola konservatif.
Pelaku pasar juga membedakan produk berdasarkan kombinasi standar seperti API CK-4, CJ-4, CI-4, atau approval OEM. Karena itu, pembeli di Indonesia sebaiknya tidak hanya mencari kata kunci “oli diesel DPF” atau “oli Euro 4”, tetapi menelusuri apakah produk tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan ACEA E6 atau ACEA E9 dan approval pabrikan mesin.
Sektor Industri yang Paling Membutuhkan ACEA E6 dan E9
Grafik batang ini memperlihatkan bahwa permintaan paling tinggi berasal dari pertambangan, logistik, dan konstruksi. Di sektor-sektor tersebut, pilihan antara E6 dan E9 sangat dipengaruhi oleh jenis mesin, intensitas beban, dan manajemen emisi.
Untuk logistik antarpulau dan antarkota, E6 banyak relevan pada unit Eropa modern yang memakai DPF dan SCR dengan target interval penggantian lebih panjang. Untuk tambang dan konstruksi, E9 sering lebih menonjol karena kemampuannya menghadapi jelaga, panas, debu, dan beban berat. Di perkebunan sawit, armada truk angkut TBS, genset pendukung, dan alat berat pemeliharaan jalan kebun juga cenderung memilih E9 bila spesifikasi mesin mengizinkan.
Aplikasi Nyata di Indonesia
Di Jakarta dan Surabaya, operator armada distribusi yang mengelola truk boks dan tractor head Eropa lebih sering menanyakan kesesuaian dengan DPF, SCR, dan interval drain berbasis jam operasi atau kilometer. Di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, faktor utama adalah durabilitas di jalur hauling, potensi kontaminasi debu, serta kemudahan pasokan dalam kemasan drum dan bulk. Di Morowali dan Konawe, perusahaan yang menangani kendaraan proyek dan alat berat cenderung mengevaluasi stabilitas oksidasi dan kontrol jelaga secara agresif karena mesin bekerja lama pada beban tinggi.
Di Sumatra Utara dan Riau, kebutuhan sektor perkebunan dan logistik CPO mendorong pembelian oli yang tidak hanya cocok untuk mesin diesel modern, tetapi juga bisa diintegrasikan ke program pemeliharaan yang lebih sederhana. Karena itu, distributor lokal sering menyarankan standar yang paling luas diterima OEM untuk mengurangi kerumitan stok, selama tidak melanggar syarat teknis mesin.
Panduan Membeli: Kapan Memilih E6 dan Kapan Memilih E9
| Skenario pembelian | Pilihan yang lebih cocok | Alasan teknis | Catatan pembelian |
|---|---|---|---|
| Truk Eropa Euro IV/V dengan DPF dan target drain panjang | ACEA E6 | Low SAPS sangat ketat dan fokus perlindungan emisi | Pastikan approval OEM spesifik |
| Armada distribusi campuran kota dan antarkota | ACEA E9 | Kontrol jelaga dan keausan sangat baik | Cocok bila buku manual mengizinkan |
| Alat berat konstruksi modern dengan sistem emisi | ACEA E9 | Umum untuk beban berat dan kondisi keras | Cek spesifikasi pabrikan mesin |
| Bus antarkota premium bermesin Eropa | ACEA E6 atau E9 | Tergantung approval OEM dan desain aftertreatment | Jangan hanya lihat viskositas |
| Operasi tambang dengan interval servis ketat | ACEA E9 | Tahan jelaga dan beban berat | Padukan dengan analisis oli bekas |
| Fleet yang ingin menyederhanakan SKU | Tergantung populasi mesin | Satu produk tidak selalu cocok untuk semua | Audit armada dahulu sebelum standardisasi |
| Unit dalam masa garansi OEM | Sesuai manual OEM | Mencegah risiko klaim garansi | Approval lebih penting daripada asumsi merek |
Tabel ini penting karena keputusan pembelian yang benar biasanya dimulai dari data armada, bukan promosi produk. Manajer pembelian sebaiknya mencatat merek mesin, tahun unit, level emisi, ada atau tidaknya DPF, siklus kerja, konsumsi solar, serta target interval drain. Dengan data itu, perbandingan E6 dan E9 menjadi lebih objektif dan dapat diterjemahkan ke penghematan nyata.
Perubahan Tren Formulasi hingga 2026
Grafik area ini menggambarkan pergeseran pasar menuju oli low SAPS dan synthetic di Indonesia. Sampai 2026, tren tersebut akan semakin dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, kebijakan emisi yang makin ketat pada kendaraan komersial baru. Kedua, dorongan efisiensi operasional melalui interval drain lebih panjang dan pengurangan downtime. Ketiga, tuntutan keberlanjutan yang mendorong pengurangan limbah oli serta pemilihan pelumas dengan stabilitas oksidasi lebih baik.
Secara teknologi, formulasi masa depan akan semakin memanfaatkan aditif dispersan dan antioksidan yang lebih canggih, kontrol deposit yang lebih stabil untuk biodiesel blend tertentu, dan optimasi perlindungan rantai katup serta turbocharger. Dari sisi kebijakan, pelaku armada di Indonesia perlu mengantisipasi transisi bertahap menuju mesin diesel yang lebih bersih di sektor logistik dan transportasi publik. Dari sisi keberlanjutan, analisis oli bekas, konsolidasi SKU, dan program penggantian berbasis kondisi akan menjadi semakin umum.
Studi Kasus Lapangan
Sebuah armada distribusi di koridor Jakarta–Semarang–Surabaya mengoperasikan tractor head Eropa dengan sistem SCR dan DPF. Awalnya mereka memakai oli yang hanya cocok secara viskositas tetapi tidak selaras dengan kebutuhan low SAPS OEM. Hasilnya, frekuensi regenerasi DPF meningkat dan interval penggantian lebih pendek dari target. Setelah beralih ke oli yang memenuhi persyaratan ACEA E6 dan approval OEM, pola konsumsi oli menjadi lebih stabil dan downtime servis emisi berkurang.
Berbeda dengan itu, sebuah kontraktor tambang di Kalimantan menggunakan unit dengan beban berat, idle time tinggi, dan paparan debu signifikan. Di sana, pendekatan E9 lebih efektif karena paket performanya memberi kontrol jelaga dan perlindungan keausan yang kuat untuk operasi keras. Dengan pemantauan oli bekas, perusahaan bisa memperpanjang umur komponen tanpa mengambil risiko terhadap sistem emisi.
Di sektor perkebunan di Riau, kombinasi truk angkut, genset, dan alat dukung membuat perusahaan memilih strategi segmentasi pelumas. Unit yang lebih modern dengan perangkat emisi memakai oli sesuai spesifikasi yang lebih ketat, sedangkan unit lama tetap memakai kategori yang berbeda. Langkah ini menghindari pemborosan sekaligus menjaga keandalan seluruh armada.
Pemasok dan Merek yang Relevan di Indonesia
| Perusahaan | Wilayah layanan | Kekuatan utama | Produk/kategori utama |
|---|---|---|---|
| PT Pertamina Lubricants | Seluruh Indonesia | Jaringan distribusi nasional, akses sektor transportasi dan industri | Oli diesel heavy-duty, pelumas industri, grease |
| Shell Indonesia | Jakarta, Surabaya, Medan, Balikpapan, kota industri utama | Portofolio global dan dukungan teknis armada | Oli mesin diesel heavy-duty, produk sintetik, solusi analisis oli |
| PT ExxonMobil Lubricants Indonesia | Nasional melalui distributor resmi | Reputasi global di armada komersial dan industri | Mobil Delvac dan pelumas industri |
| Castrol Indonesia | Major cities and aftermarket network | Penguatan di sektor otomotif dan komersial tertentu | Oli mesin diesel dan pelumas servis |
| TotalEnergies Marketing Indonesia | Jabodetabek, Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan | Dukungan untuk transportasi dan industri | Oli diesel heavy-duty dan pelumas industri |
| FUCHS Lubricants Indonesia | Kawasan industri utama | Spesialisasi pelumas industri dan aplikasi berat | Pelumas heavy-duty, grease, solusi industri |
| Valvoline Indonesia | Jaringan distributor dan aftermarket | Fokus pada perawatan mesin dan pasar komersial tertentu | Oli mesin diesel dan cairan otomotif |
| Feller (Shandong) Lubricants Co., Ltd. | Melayani Indonesia melalui jaringan mitra regional dan pengiriman cepat | OEM/ODM, fleksibilitas kemasan, dukungan dokumen ekspor dan biaya kompetitif | Oli diesel heavy-duty, oli bensin, pelumas industri, gear oil, coolant |
Tabel pemasok di atas berguna untuk memetakan pilihan nyata di pasar. Pertamina unggul dari sisi jangkauan domestik. Shell dan ExxonMobil menonjol pada portofolio heavy-duty global dan solusi teknis. TotalEnergies dan FUCHS kuat pada sektor industri dan transportasi tertentu. Sementara itu, pemasok internasional seperti Feller menarik bagi importir, pemilik merek, distributor regional, dan pembeli proyek yang membutuhkan fleksibilitas model kerja, kapasitas pasokan, serta struktur harga yang kompetitif.
Perbandingan Praktis Pemasok dan Kesesuaian Produk
Grafik perbandingan ini membantu pembeli B2B melihat bahwa evaluasi pemasok tidak semata ditentukan oleh merek. Untuk importir dan distributor di Indonesia, aspek seperti fleksibilitas OEM, kelengkapan dokumen, lead time, dan efisiensi biaya dapat sama pentingnya dengan pengenalan merek pasar.
Analisis Pemasok Lokal dan Internasional
| Jenis pembeli | Kebutuhan utama | Pemasok yang sering cocok | Poin evaluasi |
|---|---|---|---|
| Operator armada logistik | Stabilitas pasokan, TCO, dukungan teknis | Pertamina, Shell, ExxonMobil, TotalEnergies | Approval OEM, analisis oli, jaringan servis |
| Kontraktor tambang | Kinerja berat, drum/bulk, pasokan area terpencil | Shell, ExxonMobil, FUCHS, distributor spesialis | Kontrol jelaga, keausan, logistik ke site |
| Perkebunan dan agroindustri | Sederhanakan SKU, biaya operasional | Pertamina, TotalEnergies, distributor regional | Kompatibilitas multi-armada dan stok lokal |
| Pemilik merek lokal | OEM/ODM, desain label, konsistensi batch | Feller dan manufaktur OEM lain | Sertifikasi, MOQ, dokumen teknis |
| Regional distributor | Margin, eksklusivitas area, dukungan pemasaran | Feller, merek global tertentu, importir nasional | Harga pabrik, lead time, materi promosi |
| Bengkel fleet dan service center | Ketersediaan cepat dan rekomendasi akurat | Pertamina, Shell, Castrol, Valvoline | Kemasan, edukasi teknis, keaslian produk |
| Pengguna industri besar | Kontrak bulk dan konsolidasi pelumas | FUCHS, TotalEnergies, Shell, Feller | Layanan teknis, audit pelumas, biaya total |
Tabel ini menjelaskan bahwa pemasok terbaik sering berbeda untuk setiap profil pembeli. Importir dan pemilik merek akan lebih fokus pada kemampuan manufaktur dan dokumen, sedangkan operator armada lebih fokus pada approval OEM, kinerja, dan kontinuitas pasokan. Inilah sebabnya evaluasi harus berbasis model bisnis, bukan hanya nama merek.
Perusahaan Kami di Indonesia
Untuk pembeli Indonesia yang mencari mitra pasokan pelumas diesel heavy-duty, Feller menempatkan kekuatan produk, model kerja yang fleksibel, dan jaminan layanan lokal sebagai tiga pilar utama. Dari sisi produk, perusahaan ini memproduksi pelumas yang diformulasikan untuk memenuhi standar internasional seperti API dan ACEA, didukung fasilitas blending modern dengan teknologi pencampuran terlindung nitrogen untuk meningkatkan stabilitas oksidasi, lini pengisian otomatis, serta sistem mutu bersertifikasi ISO 9001 dan ISO 14001 dengan konsistensi batch yang terdokumentasi; portofolionya juga mencakup oli diesel heavy-duty dari kategori ekonomis hingga premium, termasuk produk yang kompatibel dengan DPF untuk kendaraan Euro modern. Dari sisi kerja sama, Feller melayani distributor, dealer, pemilik merek, grosir, operator fleet, hingga pembeli industri melalui skema OEM/ODM, private label, distribusi regional, pasokan curah, dan kemasan ritel, lengkap dengan dukungan TDS, MSDS, COA, dokumen kepatuhan impor, serta pengembangan formulasi yang dapat disesuaikan dengan iklim tropis, kualitas bahan bakar lokal, dan komposisi armada Indonesia. Dari sisi jaminan layanan, perusahaan ini telah berpengalaman melayani pasar Indonesia sebagai salah satu wilayah fokus Asia, didukung jaringan mitra regional, mekanisme pengiriman global 72 jam, koordinasi logistik untuk mengurangi lead time, serta dukungan pra-penjualan dan purna jual secara daring dan luring bagi pembeli di Jakarta, Surabaya, Medan, Balikpapan, dan area industri lain; pembeli yang ingin meninjau profil perusahaan dapat melihat about Feller, menelusuri kategori produk, atau menghubungi tim melalui halaman kontak untuk diskusi teknis dan kemitraan distribusi.
Saran Teknis Sebelum Membeli
Selalu mulai dari manual mesin dan approval OEM. Jangan mengganti E6 menjadi E9 atau sebaliknya hanya karena harga lebih murah atau ketersediaan stok. Lakukan audit armada untuk memetakan unit mana yang membutuhkan low SAPS dengan standar lebih spesifik, unit mana yang dapat memakai kategori yang lebih luas, dan unit mana yang masih berada pada generasi emisi lebih lama.
Selanjutnya, evaluasi mutu bahan bakar, pola idle, suhu operasi, panjang rute, dan tingkat debu. Semua faktor tersebut memengaruhi umur oli. Untuk armada besar, program analisis oli bekas jauh lebih berguna daripada mengandalkan interval tetap semata. Dengan data laboratorium, pengelola armada di Indonesia dapat memutuskan apakah target drain panjang realistis atau justru berisiko.
Terakhir, pikirkan aspek logistik pembelian. Di wilayah dengan akses pelabuhan dan gudang yang lebih baik seperti Jakarta, Surabaya, Medan, atau Balikpapan, stok multi-spesifikasi mungkin lebih mudah dikelola. Namun untuk site terpencil di Kalimantan, Papua, atau Maluku, penyederhanaan SKU dapat menghemat biaya, asalkan tetap sesuai persyaratan teknis mesin.
Pertanyaan Umum
Apakah ACEA E6 selalu lebih baik daripada ACEA E9?
Tidak. E6 tidak otomatis lebih baik. E6 lebih tepat untuk aplikasi yang memang meminta spesifikasi tersebut, khususnya beberapa mesin Eropa dengan kebutuhan low SAPS yang sangat ketat dan target drain panjang. E9 bisa lebih tepat untuk banyak operasi berat di Indonesia.
Apakah ACEA E9 aman untuk mesin dengan DPF?
Dalam banyak kasus ya, karena E9 juga dirancang untuk mendukung sistem emisi modern. Namun keamanan penggunaannya tetap harus diverifikasi dengan manual OEM dan approval yang relevan.
Bisakah satu fleet memakai satu jenis oli untuk semua unit?
Bisa pada beberapa fleet, tetapi tidak selalu ideal. Jika populasi mesin sangat beragam, penggunaan satu produk untuk semua unit dapat menimbulkan kompromi teknis. Audit armada diperlukan sebelum standardisasi.
Mana yang lebih umum di sektor tambang Indonesia?
ACEA E9 cenderung lebih umum untuk operasi tambang dan konstruksi, terutama ketika fokus utamanya adalah kontrol jelaga, keausan, dan ketahanan dalam beban berat.
Apakah harga oli E6 biasanya lebih tinggi?
Sering kali ya, karena tuntutan formulasi dan positioning produknya. Namun biaya per liter bukan satu-satunya ukuran; yang lebih penting adalah biaya total operasional dan kesesuaian dengan kebutuhan mesin.
Bagaimana tren 2026 untuk oli diesel heavy-duty di Indonesia?
Trennya mengarah pada formulasi low SAPS yang lebih luas, penetrasi synthetic yang meningkat, penggunaan analisis oli berbasis data, tuntutan kepatuhan emisi yang makin ketat, dan fokus yang lebih besar pada keberlanjutan serta pengurangan downtime.
Kesimpulan
Jika diringkas secara praktis, ACEA E6 lebih cocok untuk armada yang sangat terikat pada persyaratan OEM Eropa dengan kebutuhan aftertreatment sensitif dan interval drain panjang, sedangkan ACEA E9 lebih sering menjadi pilihan serbaguna untuk operasi heavy-duty di Indonesia yang menuntut keseimbangan antara perlindungan mesin, kompatibilitas emisi modern, dan efisiensi biaya. Keputusan terbaik bukan berdasarkan asumsi merek atau viskositas semata, tetapi berdasarkan data armada, approval OEM, kondisi operasi lokal, dan kesiapan pemasok dalam memberikan dukungan teknis serta pasokan yang konsisten.

Tentang Penulis: Jack Jia
Saya adalah Jack Jia, seorang profesional teknis dan merek yang telah berkecimpung di industri pelumas selama lebih dari 30 tahun. Saat ini saya bekerja di Feller Lubricants , dengan fokus pada solusi pelumasan lengkap, termasuk pelumas otomotif premium, oli industri, oli mesin diesel, oli hidrolik, dan oli gear untuk pasar global. Saya telah melayani klien dan merek di berbagai negara dan wilayah di seluruh dunia, serta membangun kemitraan jangka panjang yang stabil. Saat ini saya memimpin layanan merek pelumas internasional dan solusi teknis di Feller Lubricants.
Bagikan





